EP Tiga Derajat

Komik · Tim Engineering

Tiga Derajat

Satu tiket, dua engineer, AI yang sama. Hari Jumat salah satunya cuma pegang selembar kertas.

Terbit 19 Agustus 2026

9 menit baca

Catatan: AI berkembang cepat. Jika Anda membaca artikel ini 6 sampai 12 bulan setelah tanggal terbit di atas, sebagian klaim, angka, atau kondisi pasar mungkin sudah berubah. Cek sumber terbaru sebelum mengambil keputusan.

Tokohnya rekaan. Ceritanya saya racik dari beberapa kasus. Yang penting di sini polanya, karena pola yang sama bisa muncul di tim mana pun.

Dari balik bahu seorang pengguna yang bosan: laptop dengan satu foto raksasa yang hampir memenuhi seluruh layar dan mendesak isi lainnya ke pinggir, dengan spinner loading yang masih berputar.
Senin. Ini yang sebenarnya bikin halamannya lambat.
satu foto, empat puluh megabyte
SEN 08:40
Yang senior dengan cardigan gelapnya berdiri membaca secarik kertas sambil memegang mug. Yang junior dengan hoodie putihnya sudah mengetik di meja sebelah. Robotnya melayang di antara mereka dengan kedua tangan terbentang.
SENIORAplikasinya lambat.
AIAku bisa bikin lebih cepat! Mau mulai dari mana?
Ini yang ditulis di tiketnya.
SEN 09:00
Yang junior memutar kursinya ke keyboard dan tangannya sudah siap di atasnya. Yang senior berdiri, meninggalkan kursinya kosong dan masih berputar, lalu berjalan menjauh sambil membawa laptop terbuka dan memperhatikan layarnya. Robotnya melayang di antara mereka.
SENIORAku lihat dulu deh loading-nya.
JUNIORLambat? Aku percepat databasenya.
SEN 09:02
Dilihat dari atas: dua jejak meninggalkan satu titik dengan sudut yang begitu kecil sampai hampir menempel, dengan sasaran masih jauh di sebelah kanan.
Langkah pertama mereka beda. Selisihnya tiga derajat.
SENIOR
JUNIOR
SEN 09:04
Dua meja sekaligus. Yang senior mengetik dengan laptop tersandar di sebelahnya dan selembar kertas di sampingnya. Yang junior mengetik lebih cepat, dan tumpukan printout di samping mejanya sudah setinggi lutut.
Sebelum makan siang, dua-duanya nulis kode sepuluh kali lebih banyak dari tahun lalu.
AIMau lebih cepat? Bisa.
SEN 12:30
Yang junior berhenti mengetik, satu tangan terangkat, mengernyit ke layar dengan ragu betulan. Robot menyembul dari kanan dengan cengiran lebar dan kedua tangan terangkat.
JUNIOREh. Emang yang lambat itu databasenya?
AIPertanyaan bagus! Bener banget kamu ngecek itu. Nih, versi yang lebih cepat.
RAB
Yang junior bersandar dengan kaki di atas meja. Layarnya penuh centang yang semuanya sama, dan tumpukan printout di sebelahnya sudah jadi menara miring lebih tinggi dari monitornya. Robotnya bertepuk tangan, yang senior memperhatikan dari kiri.
Semua sinyal yang bisa dia lihat warnanya hijau.
JUNIORTest lolos. Benchmark naik.
AIKerja bagus!
RAB
Pemandangan dari atas yang sama. Sudutnya sama, tapi jejaknya sekarang memanjang selebar bingkai. Jejaknya yang senior berakhir tepat di sasaran. Jejak yang junior berakhir jauh di bawahnya.
Jumat. Masih tiga derajat.
SENIOR
JUNIOR
JUM
Keduanya menghadap pembaca. Yang senior mengangkat selembar kertas di antara dua jarinya. Di sebelah yang junior berdiri menara printout yang lebih tinggi dari badannya, satu tangannya bertumpu di situ, wajahnya berubah. Robotnya melayang di antara mereka.
SENIORFoto di halaman depan ukurannya empat puluh megabyte. Udah aku kecilin. Sekarang loading-nya di bawah satu detik.
JUNIOR...aku nulis ulang databasenya.
JUM
Yang junior memasukkan setumpuk demi setumpuk printout ke tempat sampah daur ulang kantor, kepala tertunduk. Menara di belakangnya tinggal separuh. Robotnya membukakan tutupnya, cengirannya sama lebar seperti hari Senin.
Satu sprint penuh. Kodenya beneran bagus.
AIMau aku hapus? Aku cepet banget, lho.
JUM
Dilihat dari belakang, yang senior duduk sambil memegang mug sementara yang junior berdiri di depan whiteboard kosong dengan spidol di tangan. Robotnya melayang di sebelah mereka, menunggu, masih nyengir.
AIAku bisa ngecek mana yang lambat!
SENIORKamu bisanya setuju sama apa pun yang kita bilang lambat.
SENIORKodenya nggak salah. Cuma hari Senin nggak ada yang ngecek kamu ngincer apa.
SEN

Nulis kodenya sekarang gratis. Milih apa yang ditulis nggak.

01

Sebenarnya komik ini ngomong apa

Dua-duanya pakai AI yang sama, dan AI-nya nulis kode buat mereka berdua sama cepatnya. Soal kode mana yang layak ditulis, dia nggak punya pendapat sama sekali.

Jadi yang naik cuma kecepatannya. Kemampuan milih arah nggak ikut naik.

Semua orang sekarang lebih cepat. Nggak ada yang tiba-tiba jadi lebih jago nentuin apa yang harus dibangun. Padahal jarak itu kecepatan dikali waktu. Salah paham yang dulu cuma bikin rugi setengah hari, sekarang bikin rugi satu sprint.

Penyimpangan tiga derajat justru yang paling ngerusak. Cukup kecil supaya hari Senin nggak ada yang ribut, cukup besar supaya hari Jumat mereka berdua udah di lapangan yang beda.

02

Kenapa hari Selasa nggak ada yang sadar

Dulu, salah arah itu ada rasanya.

Kamu mentok. Buka satu file, isinya nggak masuk akal. Nulis sesuatu, terus sadar hasilnya nggak nyambung sama yang kamu kira udah kamu ngerti. Bingungnya nggak enak, dan bingung itu alarmnya. Bunyi sendiri sejak awal, tanpa perlu dipasang siapa-siapa, dan paling kencang justru buat yang paling belum ngerti. Kalau dipikir-pikir, pas banget kan desainnya.

Alat ini ngambil bingungnya, salahnya dibiarin di tempat. Dia nulis persis yang kamu minta. Penamaannya rapi. Test lolos, coverage naik, diff-nya kelihatan kayak buatan senior, soalnya yang dia tiru memang kode buatan senior. Semua indikator di dashboard hijau, dan nggak satu pun dari indikator itu ngukur arah.

Ditanya langsung pun, dia bakal muji pertanyaannya. Kalau sesuatu selalu bilang iya, persetujuannya nggak ngasih informasi apa-apa. Itu panel 6, digambar sebagai lelucon dan jadi panel paling akurat di seluruh komik.

03

Tapi kata riset justru junior yang paling untung

Betul, dan itu perlu dijawab terus terang.

Eksperimen terbesar sejauh ini ngelibatin 4.867 developer di Microsoft, Accenture, dan satu manufaktur Fortune 100. Jumlah task yang selesai naik sekitar 26 persen. Kenaikan paling besar, 27 sampai 39 persen, justru ada di developer yang paling junior dan yang paling baru masuk.1 Kalau ceritanya berhenti di situ, alat ini memang pemerata, dan komik di atas salah.

Kuncinya ada di dua kata: task selesai. Task itu potongan kerja yang udah diputusin orang lain layak dikerjain. Jadi yang diukur cuma seberapa cepat kamu jalan di jalur yang udah dipilihin. Ongkos salah milih jalur nggak pernah ikut kehitung.

Padahal justru dari ongkos itu jaraknya melebar.

Ada uji coba lain yang hasilnya kebalikan. Enam belas maintainer open source yang berpengalaman ngerjain 246 task nyata di repo yang udah mereka kenal luar dalam. Pakai AI, mereka justru 19 persen lebih lambat. Mereka sendiri merasa 20 persen lebih cepat.2 Yang layak direnungin itu selisih 39 poin antara perkiraan mereka dan hasil sebenarnya. Kalau maintainer berpengalaman aja bisa meleset sejauh itu di kode mereka sendiri, bayangin orang yang baru setahun kerja.

04

Tiga hal yang bikin jaraknya melebar

Jaraknya sebelum ketahuan jadi jauh lebih panjang. Junior yang salah arah dulu paling banter nyampe dua ratus baris sebelum kodenya gagal compile atau ada reviewer lewat. Sekarang dia bisa sampai punya sistem yang jalan, lengkap sama test-nya. Dia bisa melaju jauh banget sebelum nabrak tembok, dan tiap meter ke arah yang salah itu ditempuh dengan kecepatan penuh.

Hambatan mereka berdua beda dari awal. Yang senior ketahan gara-gara harus ngetik boilerplate dan buka lagi dokumentasi API yang udah dia pakai empat puluh kali. Yang junior ketahan gara-gara belum tahu mana dari enam dugaan yang bener. Alat ini jago banget di hambatan pertama, dan hampir nggak nolong di hambatan kedua. Ngasih alat yang sama ke dua-duanya itu ngelepas rem yang selama ini cuma kepasang di salah satu.

Anak tangga paling bawah hilang. Judgment dulu didapat dari ngerjain seratus tiket kecil yang spesifikasinya udah jelas, terus pelan-pelan mulai bisa nyium mana yang baunya aneh. Nah, tiket kecil yang spesifikasinya jelas itu persis yang paling dikuasai alat ini. Kerjaan yang dulu jadi tempat junior belajar justru yang paling duluan diotomasi, dan belum ada yang nulis kurikulum penggantinya. Efeknya mulai kelihatan di data payroll. Jumlah pekerja usia 22 sampai 25 tahun di pekerjaan yang paling terpapar AI, software developer salah satunya, sekarang sekitar 19 persen lebih rendah dibanding kalau pertumbuhannya ngikutin rekan seusia mereka di bidang yang nggak terpapar.3

Laporan DORA 2025 ngerangkum pola umumnya dalam satu kalimat. AI itu terutama amplifier, yang memperbesar kekuatan dan kelemahan yang udah ada di sebuah organisasi.4 Tim yang arahnya udah jelas jadi lebih cepat. Tim yang arahnya masih buram cuma jadi lebih cepat nyasarnya.

05

Yang bisa diubah, kalau kamu megang tim

Perpendek jeda antar pengecekan arah. Ukur jedanya dari terakhir kali ada orang yang mastiin kamu mau ke mana.

Jadiin rencananya bahan review pertama. Dua paragraf sebelum commit pertama: menurut saya masalahnya ini, yang mau saya bangun ini, yang saya putusin nggak dibangun ini. Bacanya sepuluh menit, Senin pagi. Baca pull request yang lahir dari rencana itu makan sembilan puluh menit, Jumat sore, dan waktu itu pilihannya tinggal dua: telan atau buang.

Ganti pertanyaan pertama di code review. “Ini bener nggak” sekarang pertanyaan kedua. Pertanyaan pertamanya “ini yang dimaksud nggak”. Code review itu lahir waktu bagian paling mahal dari kerjaan ini masih nulis kodenya.

Duduk bareng di bagian yang ambigu. Duduk di sebelah junior waktu dia lagi ngetik sekarang hampir nggak ada gunanya. Duduk di sebelah dia waktu dia lagi mutusin apa yang mau diketik, itu jam paling berharga dalam seminggu.

Hitung berapa banyak kerjaan yang akhirnya dibuang. Tiap bulan, cek berapa persen kerjaan yang udah merged tapi akhirnya di-revert atau dibangun ulang. Angka itu naik kalau pengecekan arahnya longgar, dan nggak ada grafik velocity yang mau nunjukin itu ke kamu.

Berhenti ngelindungin junior pakai tiket yang spesifikasinya udah rapi. Dulu itu bentuk kebaikan. Sekarang, jenis kerjaan itu cuma ngelatih kemampuan yang udah dikuasai alatnya.

06

Kalau kamu yang junior

Sebutin dugaan sama rencanamu dalam satu kalimat ke orang lain, sebelum nulis apa pun. “Kayaknya aplikasinya lambat gara-gara database, jadi saya mau nulis ulang query-nya.” Ada yang lewat, nyeletuk “udah dilihat belum halamannya nge-download apa aja?”, dan itu makan sepuluh detik. Dua minggu hasil ngoding nggak bisa dibenerin sama celetukan sepuluh detik.

Anggap persetujuan itu nol informasi. Nada mujinya sama persis buat rencana yang bagus dan rencana yang dari awal udah jelas bakal gagal. Dia nggak bisa ngebedain.

Minta dia ngebantah kamu, terus cek sendiri bantahannya tahan diuji apa nggak. Kebiasaan ngecek itu yang lama-lama jadi judgment.

Dan yang paling nggak enak didengar. Yang sekarang langka itu kemampuan milih satu dugaan yang bener dari enam kemungkinan yang sama-sama masuk akal. Bikin barangnya udah bukan bagian yang susah. Kemampuan itu cuma bisa didapat dengan sering salah dalam skala kecil, dan tahu salahnya secepat mungkin. Jadi cara tercepat berkembang sekarang ya mulai ngomongin dugaanmu sejak hari Senin, walaupun mungkin salah, di depan orang yang bisa ngoreksi.

07

Yang nggak saya klaim

Saya nggak punya angkanya, dan sampai sekarang belum ada yang punya. Riset yang ada ngukur jumlah task yang selesai, dan kalau itu ukurannya, junior malah lagi bagus-bagusnya. Komik di atas cuma nggambarin pola yang berulang kali saya lihat di tim. Klaim saya sebatas itu.

Kasus sebaliknya juga nyata, dan nggak jarang. Junior yang pakai alat ini buat baca kode yang asing, buat keluar dari kebuntuan jam sebelas malam, buat nanyain hal yang dulu terlalu malu ditanyain ke orang, berkembangnya lebih cepat dari junior generasi mana pun sebelumnya. Alat yang sama, minggu yang sama, tim yang sama.

Bedanya ada di cara pakainya: buat jalan lebih cepat, atau buat lihat lebih jauh ke depan. Alatnya sendiri nggak nentuin pilihan itu, dan sekarang hampir nggak ada yang ngajarin.

Referensi

  1. Zheyuan (Kevin) Cui, Mert Demirer, Sonia Jaffe, Leon Musolff, Sida Peng dan Tobias Salz, “The Effects of Generative AI on High-Skilled Work: Evidence from Three Field Experiments with Software Developers,” Management Science, 2025. https://pubsonline.informs.org/doi/10.1287/mnsc.2025.00535
  2. METR, “Measuring the Impact of Early-2025 AI on Experienced Open-Source Developer Productivity,” Juli 2025. arXiv:2507.09089. https://metr.org/blog/2025-07-10-early-2025-ai-experienced-os-dev-study/
  3. Erik Brynjolfsson, Bharat Chandar dan Ruyu Chen, “Canaries in the Coal Mine? Six Facts about the Recent Employment Effects of Artificial Intelligence,” Stanford Digital Economy Lab, revisi 12 Agustus 2026. https://digitaleconomy.stanford.edu/publication/canaries-in-the-coal-mine-six-facts-about-the-recent-employment-effects-of-artificial-intelligence/
  4. DORA, “State of AI-assisted Software Development 2025,” Google Cloud, 2025. https://dora.dev/dora-report-2025/